Begini ceritanya;
Ada seorang perempuan yang mengaku bernama Mentari. Sebenarnya penting ya kalo namanya Bukan Mentari? Aku juga nggak paham, penting apa enggak?! Yang jelas begitulah dia menyebut dirinya. Seseorang merasa perlu sebuah nama atau sebutan. Lalu Mentari ini berkata di sebuah sore,
“ aku mengingat masa2 kecilku ketika aku sering bermain di hutan. Membuat rumah dari ilalang..” dan dia menyebutkan lagi beberapa jenis tumbuhan yang tidak bisa kurekam lama2 dalam otakku.
“aku juga paling suka makan belalang.” dia mengatakan ini dengan wajah yang sangat berseri2.
Sore yang cerah. Badan dan otak yang lelah. Hanya saja ini pertanda bagus untukku, bertemu dan mengenal Mentari. Sinergi yang ganjil mengetuk, dan sayangnya aku mempersilahkannya masuk.
Namanya selalu Mentari, meski nama tak pernah penting untuk diingat. Lucunya, aku malah selalu ingat ketika semuanya semakin ingin kulupa.
*bukan karena cara kerja hati tidak bisa dijabarkan, ini manusiawi sekali.
(Warnet deket Hotelnya Mamak)
aduh, terkesan tidak lazim yah…makan belalang, membuat rumah dari jalinan ilalang..
entahlah, sering juga kuperhatikan polah anak2 kecil belakangan ini. seperti mengapa anak2 kecil senang sekali menggoda kucing?menginjak kakinya hingga si kucing menjerit, atau mematahkan kaki capung agar tidak bisa terbang jauh…
apakah kita secara alamiah memang berjiwa menyakiti seperti itu? ataukah kita secara naluriah merasa puas di atas derita orang?entahlah…
lagi,
aku percaya ssatu hal.. pertemuan kedua selalu mendatangkan pertemuan selanjutnya… welcome…
haha… jatuh cinta itu mungkin juga sebuah bentuk dari kekerasan, hanya saja packagingnya lebih terlihat cantik